Review #MesakkeBangsaku Makassar - 7 Des 2013
Jadi ceritanya, malam minggu kemarin (7 Des '13), saya dan suami memutuskan nonton stand up comedy yang sudah kami saya tunggu tunggu.
Setelah Merdeka Dalam Bercanda dan menunggu (hampir) setahun
lamanya, Pandji Pragiwaksono akhirnya datang lagi ke Makassar untuk menggelar tur Komedi Tunggalnya yang diberi nama #MesakkeBangsaku.
Big thanks to smartfren (@smartfrenworld) who make it
happened :),
yay! Sehingga saya berkesempatan menyaksikan salah satu Stand Up Comedy Tour terbesar
di Indonesia ini. Plus, saya bisa ketemu Pandji dan foto bareng jadi saya bisa ganti dp
twitter, haiyyyaah.. hehehehe..
 |
jangan peduliin tangannya, saya jg heran kenapa saya melambai gitu. duh >.< |
Some of you may wonder, apa itu #MesakkeBangsaku. Kata #MesakkeBangsaku
diambil dari bahasa jawa yang artinya Kasian Bangsaku. Lebih lengkapnya, kenapa Pandji pilih tema itu, coba deh main2 ke blognya, www.pandji.com. You'll find tons of eye opening story there. For sure.
Kembali ke malam minggu kemarin, which was the best nite
ever, karena selain Pandji ada Muslim juga!! Woohoo, salah satu alasan lain yang
bikin saya ngebet banget buat nonton Komtung (Komedi Tunggal) ini adalah si Muslim,MM (baca: Madura Move on) sebagai salah satu pembuka. Muslim adalah
finalis SUCI 3 favorit saya dan suami. Yang belum tau Muslim, sila search di
Youtube deh atau liat disini
dijamin ga berhenti ngakak.
Sama halnya
dengan malam minggu kemarin, wajah mekitik khas maduranya, yang sangat datar
ketika dia melempar joke jokenya, membuat gerrrr seluruh penonton waktu itu.
Tak henti-hentinya kami tertawa ketika dia melempar bit demi bit selama
setengah jam. Alhasil pipi kemeng, perut senep dan suami kebelet pipis. Xixixi
Muslim memang jago membuat penonton tertawa, selain karena
logat Maduranya yang kental dan lucu kalo ngomong, dia juga tidak malu
bercerita tentang karakter orang madura yang 'pandai' besi. Dan kerennya lagi,
Muslim juga tidak lupa memasukkan unsur lokal Makassar, yang tidak kalah lucu
dengan materinya tentang ke-maduraannya.
Setengah jam dibuat terpingkal-pingkal oleh Muslim, tibalah
giliran Pandji. Melihat barisan depan masih kosong, tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan, saya berlari menuju kursi paling depan, yess paling depan! I'm so
proud of me! Hehehehehe.
Balas dendam ceritanya, karena tahun lalu di MDB saya dapat
tempat duduk paling belakang dan kurang mendapat feel nya, jadi kali ini saya tidak
mau menyia-nyiakan kesempatan. Maka larilah saya menuju front row, sedangkan
suami tetap di belakang, heuheu (istri macam apaahh itu) #selftoyor.
Berada di kursi paling depan, membuat saya deg-degan dan ingin
menangis, bukan karena Pandji, tapi karena saya sudah menantikan tour ini
sejak pertama kali Pandji mengumumkannya di twitter beberapa bulan lalu,
rasanya saya tidak sabar.
Saya sangat menantikan bit demi bit dari Pandji yang selalu menyentuh
dasar hati saya, yang membuat saya semakin peduli dengan keadaan bangsa ini,
seperti halnya tahun lalu.
Dan penantian saya memang tidak sia sia, Pandji membawa
penonton kedalam dunianya, dunia dimana dia sangat peduli dengan keadaan bangsa
ini.
Dengan gaya yang lebih santai, duduk di kursi sambil
ditemani (kayaknya sih) secangkir kopi dan sebotol air mineral, Pandji bukan
seperti sedang melakukan pertunjukan komtung, tapi lebih seperti teman yang
ngajak ngobrol ngalor ngidul di warung kopi sambil guyonan.
Layaknya obrolan
warung kopi, materi Pandji malam itu sangat bervariasi, mulai dari yang saru seperti
tobron (yang ngga tau tobron, pm aja yak) sampai materi serius tentang kondisi
bangsa ini yang memang selalu menjadi misi di setiap Stand Up tournya. Dan saya
benar-benar menikmatinya dan selalu penasaran, apa yang akan dibawakan selanjutnya. Ditambah dengan riffingnya yang membuat penonton semakin
terpingkal-pingkal, kasian deh yang kena riffing, hey nomor tujuh, hahahahahah.
Materi materi saru dan hal hal lucu mengenai orang-orang disekitarnya menurut saya hanya sebuah selingan. In the end, kebanyakan bit bit
nya membuat saya terhenyak, tentang kondisi bangsa yang patut dikasihani, tentang
fakta fakta di republik tercinta yang selama ini kita sepelekan, dan hal ini dibawakan
oleh Pandji dengan jenaka. Dan saya yakin, penonton lain juga merasakan hal yang sama, terhenyak.
Walaupun dibawakan dengan sangat jenaka, saya banyak
mendapat pandangan baru, yang sebetulnya dapat dengan mudah kita dapat dari
google, tetapi seringkali tidak terpikirkan. Materi stand up Pandji malam itu,
menjadi seperti sebuah toyoran bagi kita, saya khususnya, untuk lebih peduli
lagi dengan keadaan bangsa kita.
Kalau kita semua pesimis dan tidak mau ikut
merubah, maka kita akan terus begini, Pandji mengajak penonton yang semuanya
anak muda untuk optimis, kita bisa, pasti bisa
Begitu kira-kira saya memaknai
malam minggu lalu. Walaupun kami dibuat terpingkal-pingkal selama 2 jam lebih,
kami tidak hanya pulang dengan pipi kemeng dan perut senep, tapi kami dibuat
berpikir oleh Pandji. Saya tergugah (semoga penonton lainnya juga) dan terdiam
sepanjang perjalanan pulang. Sibuk mengaduk aduk google, mencari fakta fakta
yang selama ini tidak terpikirkan oleh saya. Sampai akhirnya tiba-tiba suami
buka suara, "Yang, tobron tuh" gubrakkkk!!
Hahahahahah, kira kira cuma itu (mungkin) yang tinggal dipikiran suami dari penampilan Pandji malam minggu lalu. Duh. Semoga hanya suami saya, semoga. :)